Cerita Bersama Andrea Hirata dan Karyanya

by - 03:29

pict:.https://lifestyle.okezone.com

Pasti kalian memiliki idola bukan? Entah itu datang dari dunia entertaiment, olahraga, atau akademis. Beruntung sekali jika kamu memilikinya karena setidaknya hidupmu tidak dihabiskan untuk melihat dirimu saja. Perlu kok melihat keberhasilan, perjalanan bahkan mengikuti jejak sukses orang lain asal tidak berlebihan saja cara mengidolaknnya.

Entah kenapa dari kecil dikeliling oleh buku-buku terjemahan, terbilang jarang membaca dan mengetahui penulis Indonesia. Kebiasaan membaca buku terjemahan pun memberikan sensasi tersendiri jadi sedikit sulit untuk menerima komposisi buku dari penulis Indonesia. Bukan berarti karya mereka tidak bagus loh, bukan!. Ini soal kebiasaan saja. Orang yang terbiasa makan roti akan berasa aneh jika harus menikmati nasi. Kurang lebih begitu.

Saya meyakini, jika kamu ingin tahu siapa idolamu. Tengok saja sudah berapa banyak karyanya yang kamu nikmati, sudah berapa video yang kamu lihat untuk mengetahui perjalanannya. sudah seberapa sering kamu membicarakannya. Salah satu, eh bukan!. Satu-satunya buku dari sastrawan Indonesia yang terbanyak saya baca adalah datang dari penulis Belitung. Siapa lagi? kalau bukan Andrea Hirata.

Muncul dengan kisah Laskar Pelangi, memenuhi segala konten di televisi, berita, talk show, dan acara jalan-jalan. Sampai akhirnya jodoh juga bertemu dengan buku Laskar Pelangi dan bisa membacanya. Dapat dari pinjaman teman. Hihihi. Ternyata perjalanan menikmati kisah bocah-bocah Belitung tidak sampai disana. Tetrologi laskar pelangi berhasil saya tuntaskan.

Lama tak berjumpa dengan buku Andrea Hirata sampai akhirnya tahun 2010, penulis berambut kerting tersebut mengeluarkan 2 buku yang dijilid menjadi satu buku. Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas. Bukunya unik, ada 2 cover depan belakang yang memuat judul berbeda. Kalau cetakan terbarunya sih 2 buku ini akhirnya dipisah. Berpikir tidak akan tertarik dengan kisah selain cerita Laskar Pelangi, terlebih disini Andera bercerita tentang cintanya pada A-ling dan cinta pasangan lainnya. Jenis cerita yang jarang sekali membuat saya tertarik di masa remaja kala itu.Daripada tidak ada buku baru, akhirnya saja baca buku yang disodorkan kakak saya tersebut.

Eh, ternyata saya pun menghabiskan buku itu dan Andera Hirata tetap menyuguhkan sensasi yang sama dengan ke-4 novel sebelumnya. Sederhana, lucu, dan bahasa sastra yang tidak membosankan. Ya, ternyata aku tidak menyukai perjalanan Laskar Pelangi saja tapi juga kisah-kisah yang ditulis Andrea Hirata.

Satu tahun kemudian Andrea Hirata kembali memperkenalkan karyanya "Sebelas Patriot". Menceritakan keinginan Ikal sebagai pemain sepak bola. Sayangnya kok tidak tertarik ya. Hingga akhirnya Andera Hirata mengeluarkan buku dengan sebuah judul yang sederhana "Ayah" wah makin tidak tertarik lagi. Entah kenapa tidak ada ketertarikan untuk membaca perjuangan seorang orang tua. Bakal penuh dengan "mewek" nih pikirku. Melupakan gaya tulisan Andrea Hirata. Sampul bukunya juga tidak membuat tertarik untuk dibawa pulang kerumah. Ini selera sih.

Hemm, waktu itu saya ingin sekali membaca buku tapi sayangnya buku yang saya miliki sudah khatam saya baca dan belum punya uang untuk membeli lagi. Haha. Maklum anak kuliahan. Ada teman sekamar yang memiliki sebuah buku  dan yup! bukunya Andrea Hirata, Ayah. Selalu berpikiran tidak tertarik tapi saya selalu saja dipertemukan dengan buku Andrea Hirata di depan mata saya, karena ingin sekali membaca. Okelah, saya baca akhirnya buku "ayah" tersebut"

Gila! Bang Andrea lagi-lagi membuat saya jatuh cinta. Ternyata memang benar pendidikan seseorang itu akan berpengaruh terhadap karyanya. Kalau tidak salah keberhasilan buku-buku Andrea Hirata membuat dia mendapat kesempatan untuk belajar menulis. Mungkin ini sebuah karya yang dia hasilkan setelah mengalami proses belajarnya tersebut. Buku yang karakter tokoh, dialog, dan ceritanya masih menggantung di otak saya walau pun setelahnya saya membaca 2-3 buku lainnya.  tetapi novel "ayah" meracuni pikiran saya kala itu sampai sempat mecampuri gaya tulisan saya.

Andrea Hirata datang dengan terus membawa kejutan yang luar biasa membuat saya berulang kali jatuh cinta. Berhenti lama membaca karyanya setelah "maryamah karpov". Beranggapan tidak akan menyukai novel padang bulan bulan dan cinta dalam gelas yang ternyata kembali dibuat jatuh cinta dan berpikiran lagi jika tidak tertarik dengan novel yang dikeluarkan pada tahun 2015 "Ayah", ternyata cerita Sabari (tokoh di novel ayah) membuat saya lama mengilangkan senyum. Saya kembali jatuh cinta.

Novel terakhir yang dia keluarkan tahun kemarin, 2017 berjudul Sirkus Pohon kalau ini mah judul dan sampulnya sudah membuat jatuh cinta duluan apalagi isinya. Sayangnya masih banyak buku yang dibeli dan belum dibaca oleh saya. Kasihan mereka, sudah dibawa pulang ke rumah tapi tidak dibaca. Hal yang paling menyedihkan adalah menumpuk buku, tanpa membacanya. Benar gak? makanya saya tak mau begitu. Meskipun ingin sekali memiliki Sirkus Pohon tapi saya harus bercinta dulu dengan buku-buku yang saya miliki.

Selamat Jatuh Cinta dengan karya-karya Andrea Hirata.


Uang lebaran yang masih kurang cukup membeli buku Maryamah Karpov, Andrea Hirata tapi kakak perempuan saya menggenapkan uang yang saya miliki dan jadilah ini buku pertama yang saya punya. Biasanya membaca dari buku-buku di perpustakaan kota dan sekolah atau kalau tidak dipinjamkan oleh teman-teman. Receh sekali, tapi "happy" waktu baca dari buku milik sendiri, bukan hasil pinjaman. Novel inilah yang membuat rajin menabung untuk membeli beberapa buku setiap tahunnya.







    

You May Also Like

0 comments